Minggu, 20 Desember 2020

Kriteria Culling di Pre Nursery

BERTANI - Culling/seleksi di Pre Nursery pertama kali dilakukan pada saat pemilihan benih kecambah kelapa sawit untuk ditanam dibabybag. Culling benih kecambah tersebut sudah penulis cantumkan diartikel sebelumnya. Kemudian culling kedua dilakukan pada saat bibit berumur 3 bulan (12 MST) saat akan dilakukan transplanting.

Gambar : Bibit normal di Pre Nursery

Culling atau seleksi merupakan kegiatan memilih bahan tanam terbaik yang selanjutnya akan dilakukan perawatan secara intensif sehingga menghasilkan bahan tanam yang baik dan berkualitas. Di perusahaan perkebunan kelapa sawit, proses culling ini benar – benar dilakukan secara teliti, agar nantinya bibit yang ditanam tidak mengecewakan. Sehingga cost / biaya yang telah dikeluarkan dari awal pembibitan tidak terbuang percuma. Pada pembibitan di perusahaan kelapa sawit, hasil culling dikelompokkan kemudian dilakukan pemusnahan dengan cara dicincang atau dilakukan pembakaran ditungku api yang telah didesain sedemikian rupa.

Namun, pada pembibitan kelapa sawit di tingkat petani atau pembibitan dengan skala kecil, hasil culling akan dipertahankan dengan dilakukan perawatan yang lebih terhadap bibit hasil seleksi tersebut. Diharapkan dengan cara demikian, maka bibit hasil seleksi akan mulai menunjukkan perbaikan dalam pertumbuhannya. Hal ini tentunya tidak disalahkan, asal kedepannya planter telah siap apabila bibit yang akan ditanam dilapangan nantinya kurang optimal hasil produksinya. Namun untuk bibit kategori erect, penulis menyarankan agar bibit tersebut langsung dimusnahkan, karena akan menghasilkan individu yang steril dan tidak dapat menghasilkan sama sekali.

Proses seleksi bibit di pre nursery dilakukan untuk memilih bibit yang benar – benar siap dipindahkan ke main nursery. Bibit yang terseleksi di pre nursery dapat dipisahkan dengan bibit normal yang lain untuk dilakukan perawatan yang lebih intensif. Pada beberapa kasus, setelah bibit yang terseleksi dilakukan perawatan ekstra dalam 2 bulan kedepan menunjukkan perbaikan pertumbuhan.

Bibit yang terkena seleksi mungkin terindikasi kurang perawatan, atau cara penanaman kecambah yang salah dimana posisi radikula dan plumula yang terbalik saat penanaman. Bibit yang terseleksi mungkin saja disebabkan karena pemberian pupuk yang salah atau kurang air pada saat penyiraman. Namun bibit yang terseleksi karena bawaan genetiknya, biasanya memang tidak dapat tumbuh normal.

Berikut merupakan contoh bibit abnormal yang harus di culling :

Gambar : Bibit dengan daun yang tidak terbuka (Collante)

Gambar : Bibit Erect (semai tegak), calon bibit steril

Gambar : Bibit dengan narrow leaves (daun tak terbuka)


Gambar : Bibit dengan rolled leaf (daun berputar)

Gambar : Bibit dengan twisted leaf (daun berputar)

Gambar : Bibit dengand aun strip kuning (Chimera)

Pada bibit yang tumbuh lebih dari satu individu, biasanya disebabkan karena pada saat penanaman, kecambah memiliki lebih dari satu tone. Bibit yang demikian harus dipisahkan untuk masing – masing individunya, kemudian dirawat pada tempat yang berbeda. Pada main nursery nantinya bibit yang demikian dibuat pada plot yang berbeda agar mudah dalam pengontrolannya.

Untuk meminimalisir bibit yang terseleksi, sangat penting juga memilih varietas kelapa sawit unggulan. Varietas unggul memberikan manfaat teknis dan ekonomis yang banyak bagi perkembangan suatu usaha pertanian, diantaranya pertumbuhan tanaman menjadi seragam sehingga panen menjadi serempak, rendemen lebih tinggi, mutu hasil lebih tinggi dan sesuai dengan selera konsumen, dan tanaman akan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap gangguan hama dan penyakit dan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sehingga dapat memperkecil penggunaan input seperti pupuk dan pestisida.

Produktivitas varietas sangat bergantung pada genotype (komposisi gen yang dimiliki varietas) dan kondisi lingkungan tumbuh (interaksi genotype dengan lingkungan). Faktor-faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap penampilan varietas antara lain kesuburan fisik dan kimiawi tanah, iklim, keberadaan hama dan penyakit, teknik budidaya yang digunakan.

Mutu benih meliputi : mutu genetic, mutu fisik, dan mutu fisiologis. Perubahan status petani dari yang kolotnial menjadi millennial mengharuskan petani-petani muda juga harus mengetahui apa itu manfaat dari labelisasi sebuah mahakarya perbenihan. Petani millennial diharapkan agar selalu menggunakan benih berlabel dan meninggalkan cara bertani yang lama yang tidak mengenal arti sebuah label, dengan kata lain asal tanam saja. 

Adapun ciri-ciri benih.bermutu yaitu:
- Varietasnya asli
- Benih bernas dan seragam
- Daya berkecambah dan vigor tinggi, sehat dan tidak terinfeksi oleh jamur atau serangan hama.


EmoticonEmoticon