TOKO SARANA PRODUKSI PERTANIAN
Ingin melihat kumpulan artikel kami? Silahkan klik Daftar Isi dibawah ini.
Jumat, 01 Desember 2023
Parasitisme Ulat Penggulung Daun Pisang (Erionota thrax L.) (Lepidoptera : Hesperidae)
BERTANI - Pisang merupakan tanaman yang tahan naungan dan udah dibudidayakan. Meski mudah dibudidayakan, untuk membudidayakan pisang di lahan hutan dibutuhkan persyaratan tertentu. Pisang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jenis pisang yang banyak ditanam di Indonesia antara lain pisang susu, pisang raja, pisang ambon, pisang kepok, pisang mas, dll. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang dominan dalam konsumsi buah-buahan di Indonesia, karena sekitar 45 % dan total konsumsi buah-buahan adalah pisang (Wijayanto, 2007).
Inventarisasi plasma nutfah pisang di Indonesia dimulai pada abad XVIII. Dalam buku yang berjudul Herbarium Amboninese karangan Rumphius yang diterbitkan tahun 1750, telah dikenal beberapa jenis pisang hutan dan pisang budidaya yang terdapat di Kepulauan Maluku Pengembangan budidaya tanaman pisang pada mulanya terpusat di daerah Banyuwangi, Palembang, dan beberapa daerah di Jawa Barat dan sekarang sudah tersebar ke seluruh Indonesia (Nushka, 2012).
Di Indonesia, pisang menduduki tempat pertama di antara jenis buah-buahan lainnya, baik dari segi sebaran, luas pertanamannya maupun dari segi produksinya. Total produksi pisang Indonesia tahun 2006 sekitar 5.037.472 ton dan Lampung menyumbang 535.732 ton, atau 10,6% dari produksi pisang nasional (Molina, et.al, 2007).
Salah satu hama yang banyak menyerang pertanaman pisang adalah Erionota thrax L. (Lepidoptera: Hesperidae). Hama ini menyerang bagian daun pisang dan dikenal sebagai ulat penggulung daun pisang. Apabila dibiarkan, tanaman akan menjadi gundul dan hanya tampak tulang daunnya. Larva berwarna hijau muda dan ditutupi lapisan tepung berwarna putih, dan panjangnya sekitar 7 cm. Telur berwarna kuning dan diletakkan oleh serangga betina dewasa di bagian tepi permukaan bawah daun (Novianti, 2008).
Namun demikian secara umum produktivitas pisang yang dikembangkan masyarakat masih sangat rendah, seperti di Lampung produktivitas pisang hanya 10-15 ton/ha, padahal potensi produktivitasnya bisa mencapai 35-40 ton/ha. Kesenjangan produktivitas tersebut terutama disebabkan teknik budidaya tidak tepat dan tingginya gangguan hama dan penyakit terutama oleh serangan dua penyakit paling berbahaya dan mematikan, yaitu penyakit layu bakteri atau penyakit darah dan penyakit layu Fusarium (Molina, et.al, 2007).
Daun pisang tidak terlepas dari serangan hama serangga. Serangga yang menyerang daun pisang adalah Erionota thrax L. dimana serangga ini menggulung daun pisang untuk dijadikan tempat tinggalnya. Salah satu upaya untuk memberantas hama ini selain menggunakan insektisida adalah dengan mengetahui parasitoid dari serangga tersebut (Novianti, 2008).
Salah satu pengendalian dari Erionota thrax L. yaitu dengan menggunakan pengendalian hayati. Menurut Eleinberg et al (2001) bahwa pengendalian hayati merupakan penggunaan organisme hidup untuk menekan populasi serangga hama–pathogen, agar tidak berkembang atau bahkan tidak menimbulkan gejala kerusakan pada tanaman sehingga tanaman bisa tumbuh seperti apa adanya (Pratomo, 2005).
Parasitoid adalah serangga yang bersifat sebagai parasit pada serangga atau binatang Arthropoda yang lain. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanya (larva) sedangkan fase dewasanya berada hidup bebas dan tidak terikat dengan inangnya. Umumnya parasitoid akhirnya dapat membunuh inangnya meskipun ada inang yang mampu melengkapi siklus hidupnya sebelum mati. Parasitoid mampu menyerang pada setiap instar serangga, meskipun instar dewasa jarang terparasit (Soviani, 2012).
Biologi Hama
Menurut Fauzi (2013) Erionota thrax L. Diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia ;
Filum : Arthropoda ;
Kelas : Insecta ;
Ordo : Lepidoptera ;
Family : Hesperiidae ;
Genus : Erionota ;
Spesies : Erionota thrax L.
Erionota thrax L. termasuk ke dalam famili Hesperiidae, Ordo Lepidoptera. Telur berwarna kuning dan menetas setelah mencapai umur 5-8 hari setelah diletakkan. Imago meletakkan telur secara berkelompok kira-kira 25 butir pada permukaan bawah daun yang utuh pada malam hari. Perkawinan kupu – kupu ini dilakukan pada sore dan pagi hari. Kupu-kupu ini bertelur pada waktu malam hari. Telurnya di lekatakan bergerombol pada daun sebanyak 25 butir pada daun pisang yang masih utuh (Praputra et al, 2011).
Telur berwarna kuning cerah yang kemudian berubah menjadi kuning. Telur diletakkan secara tunggal atau berkelompok di bawah permukaan daun. Telur menetas dalam 5 sampai 8 hari (Novianti, 2008).
Larva yang masih muda warnanya sedikit kehijauan dan tubuhnya tidak dilapisi lilin. Larva yang ukurannya lebih besar berwarna putih kekuningan dan tubuhnya dilapisi lilin. Larva muda yang baru menetas memotong daun pisang secara miring mulai dari bagian tepi daun lalu menggulung potongan tersebut. Stadium larva berlangsung selama 28 hari. Larva makan dari bagian dalam gulungan tersebut, kemudian membentuk gulungan yang lebih besar sesuai dengan perkembangan larva sampai instar akhir. Mortalitas larva cukup tinggi pada larva muda karena pada permukaan tubuhnya belum ditutupi lilin dan gulungan daunnya masih terbuka (Fauzi, 2013).
Stadium prapupa lamanya adalah tiga hari, sedangkan stadium pupa 7 hari. Memasuki stadium pupa, warna tubuh menjadi kuning terang. Sesuai perkembangan, lambat laun tubuh pupa akan berubah warna menjadi agak gelap dan akhirnya menjadi agak gelap dan akhirnya menjadi coklat agak gelap. Pupa berada di dalam gulungan daun, dan dilapisi lilin. Panjang pupa ± 6 cm dan mempunyai probosis. Stadium pupa berlangsung selama 8-12 hari (Cardona et al., 2007).
Imago Erionota thrax L. adalah kupu-kupu berwarna coklat dengan bintik kuning pada kedua sayapnya. Panjang rentangan sayapnya kira-kira 7.5 cm. Imago menghisap madu atau nektar bunga pisang. Imago aktif pada sore hari dan pagi hari. Siklus hidup E. thrax di Bogor 5 – 6 minggu (Novianti, 2008).
Gejala Serangan
Daun yang diserang ulat biasanya digulung sehingga menyerupai tabung, dan apabila dibuka akan ditemukan larva di dalamnya. Larva memotong bagian tepi daun kemudian digulung mengarah ke dalam. Larva yang masih muda memotong tepi daun secara miring, lalu digulung hingga membentuk tabung kecil. Apabila daun dalam gulungan tersebut sudah habis, maka larva akan pindah ke tempat lain dan membuat gulungan yang lebih besar. Di dalam gulungan tersebut larva akan memakan daun dan biasanya gulungan tersebut menjadi layu (Ahmad, et.al ., 2008).
Larva yang menetas dari telur-telur yang diletakkan pada daun muda, memakan daun pisang dari dalam gulungan daun-daun tersebut Ulat masih muda memotong daun mulai dari tepi secara miring, lalu digulung sehingga membentuk tabung kecil. Pada tingkat serangan tinggi, daun habis dan tinggal pelepah yang penuh dengan gulungan. Akibatnya pada serangan berat tinggal tulang-tulang daun yang tegak yang akhirnya menegering (Fauzi, 2013).
Larva ditutupi oleh semacam lilin berwarna putih. Kepompongnya berwarna coklat. Apabila serangan berat, daun akan habis dan tinggal pelepah daun yang penuh dengan gulungan daun sehingga dapat menurunkan produksi pisang (Molina, et.al., 2007).
Pengendalian Hayati
Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (agen pengendali biologi), seperti predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati adalah suatu teknik pengelolaan hama dengan sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan musuh alami untuk kepentingan pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium. Sedangkan Pengendalian alami merupakan Proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia, tidak ada proses perbanyakan musuh alami (Sunarno, 2010).
Pengendalian hayati memiliki keuntungan yaitu :
(1). Aman artinya tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia dan ternak, (2). tidak menyebabkan resistensi hama,
(3). Musuh alami bekerja secara selektif terhadap inangnya atau mangsanya, dan
(4). Bersifat permanen untuk jangka waktu panjang lebih murah, apabila keadaan lingkungan telah setabil atau telah terjadi keseimbangan antara hama dan musuh alaminya (Jumar, 2000).
Selain keuntungan pengendalian hayati juga terdapat kelemahan atau kekurangan seperti :
(1). Hasilnya sulit diramalkan dalam waktu yang singkat,
(2). Diperlukan biaya yang cukup besar pada tahap awal baik untuk penelitian maupun untuk pengadaan sarana dan prasarana,
(3). Dalam hal pembiakan di laboratorium
kadang-kadang menghadapi kendala karena musuh alami menghendaki kondisi lingkungan yang khusus dan (4). Teknik aplikasi dilapangan belum banyak dikuasai (Sunarno, 2010).
Parasitoid
Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang antropoda lainnya. Parasitoid bersifat parasit pada fase pradewasa, sedangkan dewasanya hidup bebas dan tidak terikat pada inangnya. Parasitoid hidup menumpang di luar atau didalam tubuh inangnya dengan cara menghisap cairan tubuh inangnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya (Jumar, 2000).
Faktor - faktor yang mendukung efektifitas pengendalian hama oleh parasitoid adalah : (1). Daya kelangsungan hidup (Survival) baik, (2). Hanya satu atau sedikit individu inang diperlukan untuk melengkapi daur hidupnya, (3). Populasi parasitoid dapat tetap bertahan meskipun pada aras populasi inang rendah, (4). Sebagian parasitoid monofag, atau oligofag sehingga memiliki kisaran inang sempit. Sifat ini menyebabkan populasi parasitoid memiliki respon numerik yang baik terhadap perubahan populasi inangnya (Sunarno, 2010).
Parasitoid menyedot energi dan memakan selagi inangnya masih hidup dan membunuh atau melumpuhkan inangnya untuk kepentingan keturunanya. Kebanyakan parasitoid bersifat monofag (memiliki inang spesifik), tetapi ada juga yang oligofag (inang tertentu). Selain itu parasitoid memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari iangnya (Soviani, 2012).
Adapun mekanisme parasitoid yaitu proses penemuan inang oleh parasitoid terjadi sangat kompleks, dimana prose situ perbedaannya tergantung jarak inang (long and short range). Hal itu merupakan proses yang dilakukan oleh parasitoid betina untuk meletakkan telurnya pada inang. Parasitoid betina dapat meletakkan telurnya pada permukaan kulit inang atau dengan tusukan ovipositor telur langsung dimasukkan kedalam tubuh inag. Larva yang keluar dari telur menghisap cairan dari inagnya dan menyelesaikan perkembangannya dapat dari luar tubuh inang (ektoparasitoid) atau di dalam tubuh inang (endoparasitoid) (Jumar, 2000).
Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae) merupakan parasitoid bersifat soliter dan parthenogenesis sehingga diharapkan mempunyai daya biak yang cukup besar. Pemanfaatan Xanthocampoplex sp. sebagai agens hayati telah banyak diterapkan di PTPN II Risbang Tebu Sei Semayang untuk mengendalikan hama penggerek batang tebu raksasa Phragmatocea castaneae. Parasitoid Xanthopimpla gampsura, termasuk ke dalam famili Ichneumonidae. Karena memiliki ciri tidak mempunyai sel kostapada sayap-sayap depan, venasiRs + M tidak ada, terdapat venasi 2m-cu. Antena berbentuk filiform (seperti benang) dengan segmen berjumlah 18 atau lebih. (Soviani, 2012).
Daftar Pustaka
Ahmad I., Maramis R., Sastrodihardjo S., and Permana A.D., 2008. Abundant parasitoids of Erionota thrax (Lepidoptera; Hesperidae) in four banana plantations around Bandung areas. Sam Ratulangi University (UNSRAT), Manado, Indonesia.
Fauzi, R. 2013. Kemampuan Memangsa Rhynocoris fuscipes F. (Hemiptera:Reduviidae) Terhadap Larva Erionota thrax L.(Lepidoptera:Hesperiidae) dan Spodoptera litura F. (Lepidoptera : Noctuidae) di Laboratorium. Unversitas Sumatera Utara, Medan.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.
Molina, A.B., Eusebio, J.E., Roa, V.N., V.D.Berg and Maghuyob, M.A.G., 2007. Current situation in banana R&Din Papua New Guinea. Jakarta.
Novianti F., 2008. Hama Penggulung Daun Pisang Erionota Thrax Linnaeus (Lepidoptera: Hesperidae) Dan Musuh Alaminya Di Tempat-Tempat Dengan Ketinggian Berbeda. IPB, Bogor.
Nushka, N.2012. BAB II Kajian Pusataka. Diakses dari eprints.uny.ac.id/8171/3/bab%202%20-%2007308141022.pada tanggal 26 September 2016.
Praputra, P. W., W. Harianja, R. Irmaulana, S. N. Doy, and J. Haro. 2011. Ekologi Ulat Penggulung Daun Erionota thrax L. UKI. Jakarta.
Pratomo, A. 2005. Prinsip Pengendalian Hayati. Universitas Pendidikan Indonesia, Jakarta.
Soviani, E. 2012. Identifikasi Parasitoid pada Erionota thrax L. yang Terdapat pada Daun Pisang. Universitas Pendidikan Indonesia, Jakarta.
Sunarno, 2010. Pengendalian Hayati ( Biologi Control ) Sebagai Salah Satu Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Halmahera utara.
Wijayanto, N. 2007. Budidaya Pisang.Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Minggu, 08 Oktober 2023
Pestisida : Pengertian dan Penggolongannya
BERTANI - Pestisida (Inggris:Pesticide) secara harfiah berarti pembunuh hama (pest: hama; cide: membunuh). Menurut peraturan pemerintah No. 7/1973, pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
- Mengendalikan atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman, atau hasil-hasil pertanian
- Mengendalikan rerumputan
- Mengatur atau meransang pertumbuhan yang tidak diinginkan
- Mengendalikan atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau ternak
- Mengendalikan hama - hama air
- Mengendalikan atau mencegah binatang – binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.
![]() |
| Gambar : Penggunaan pestisida yang bijak untuk keberlanjutan pertanian |
Menurut The United States Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah sebagai berikut :
- Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang mengerat, nematoda, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama, kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang
- Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman
Istilah produk perlindungan tanaman juga digunakan untuk menghindari istilah pestisida yang berkonotasi bahan pembunuh. Memang kenyataannya tidak semua pestisida pertanian bekerja dengan cara membunuh. Reppelent misalnya, tidak membunuh melainkan mengusir hama. Attractant bekerja menarik atau mengumpulkan serangga. Istilah pestisida, kecuali lebih pendek dan lebih dikenal luas, merupakan istilah resmi yang digunakan dalam peraturan dan perundang – undangan.
Pengelompokan pestisida menurut jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) sasarannya yakni sebagai berikut :
- Insektisida yakni untuk OPT sasaran hama serangga
- Akarisida yakni untuk OPT sasaran hama tungau
- Molluskisida yakni untuk OPT sasaran hama siput
- Rodentisida yakni untuk OPT sasaran hama tikus
- Fungisida yakni untuk OPT sasaran penyakit jamur atau cendawan
- Bakterisida yakni untuk OPT sasaran penyakit bakteri
- Nematisida yakni untuk OPT sasaran penyakit nematoda
- Herbisida yakni untuk OPT sasaran gulma atau tumbuhan pengganggu
Kecuali untuk kelompok – kelompok utama seperti tertera diatas, dikenal pula kelompok – kelompok pestisida lainnya seperti Avisida untuk mengendalikan burung, Pisisida untuk mengendalikan ikan buas, Virusida untuk mengendalikan virus, Algisida untuk mengendalikan algae atau ganggang, Larvisida yakni insektisida untuk mengendalikan larva serangga, Ovisida untuk mengendalikan telur serangga, Repellent yakni insektisida untuk mengusir hama, Attactant untuk mengumpulkan serangga, Defoliant untuk merontokkan daun, Dessicant untuk mengeringkan daun, Plant Grow Regulator (PGR) untuk mengatur pertumbuhan tanaman, Chomosterilant yakni zat pemandul serangga, dan Fumigan untuk memfumigasi gudang.
Beberapa produk perlindungan tanaman mepunyai efek ganda. Misalnya karbofuran dan triazofos yang lebih dikenal sebagai insektisida juga berfungsi sebagai nematisida. Adapula pestisida yang berfungsi sebagai akarisida dan fungisida, misalnya oksitiokuinoks dan dinobuton. Profenofos disamping sebagai insektisida, berfungsi pula sebagai akarisida. Dazoment yang dikenal sebagai fungisida, berfungsi pula sebagai insektisida dan nematisida. Sedangkan metil bromida, suatu fumigan yang mulai dilarang digunakan dibeberapa negara dikenal sebagai sterilant yang berfungsi sebagai insektisida, fungisida, nematisida, dan herbisida.
Pengetahuan tentang pengelompokan pestisida berdasarkan jasad sasarannya sangat penting bagi petani, sebagai pengetahuan dasar dalam meilih pestisida yang tepat.
Referensi : Djojosumarto, Panut. 2000. Teknik aplikasi pestisida pertanian. Kanisius. Yogyakarta
Rabu, 10 November 2021
Single Stage Nursery
BERTANI - Seperti yang telah penulis sampaikan pada artikel sebelumnya mengenai pembibitan single stage dan double stage, pada kesempatan kali ini penulis akan sedikit berbagi informasi tentang pembibitan kelapa sawit metode single stage.
| Gambar : Bibit umur 7 bulan pada pembibita satu tahap |
Pada pembibitan satu tahap (single stage), kecambah langsung ditanam dalam largebag di pembibitan utama yang mula – mula letaknya diatur saling berdekatan (sebaiknya di buat per 4 baris largebag). Sesudah 2 atau 3 bulan, bibit tersebut letaknya dijarangkan seperti pembibitan double stage di main nursery.
Adapun teknis persiapan tanam dan juga penanaman, serta penyiraman dan pengendalian hama penyakit bibit kelapa sawit pada metode single stage sama dengan pembibitan metode double stage. Penulis menyarankan, pada pembibitan single stage, diwaktu kecambah baru ditanam hingga umur 2.5 bulan, pemberian naungan berupa anak daun kelapa sawit yang dibentuk melengkung menutupi kecambah sebaiknya dilakukan, agar persentase hidup kecambah lebih tinggi.
Adapun untuk rekomendasi pemupukan disarankan sebagai berikut :
|
UMUR
BIBIT (Minggu) |
JENIS
DAN DOSIS PUPUK per BIBIT |
Aplikasi |
|||||
|
RP |
CRF |
Urea |
Slow
Release |
Kieserite |
|||
|
15.15.6.4 |
12.12.17.2 |
||||||
|
Isi tanah |
50 gr |
|
|
|
|
|
Dicampur dengan tanah |
|
4 |
|
50 gr |
Ditugal pada 4 sisi |
||||
|
8 |
|
5 gr |
Dipermukaan tanah |
||||
|
16 |
|
5 gr |
Dipermukaan tanah |
||||
|
28 |
|
10 gr |
Dipermukaan tanah |
||||
|
32 |
10 gr |
10 gr |
Dipermukaan tanah |
||||
|
36 |
15 gr |
|
Dipermukaan tanah |
||||
|
40 |
15 gr |
15 gr |
Dipermukaan tanah |
||||
Rabu, 03 Februari 2021
Kriteria Culling di Main Nursery
BERTANI - Seleksi bibit di main nursery dilakukan setelah bibit berumur 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan. Seleksi ini bertujuan untuk mendapatkan bibit yang benar layak di tanam dilapangan sehingga memberikan hasil optimal bagi pembudidaya.
1. Kelainan pada habitus tanaman
- Bibit tumbuh meninggi dan kaku, sudut pelepah dengan sumbu batang lebih tajam (gejala steril). Gejala muncul setelah 2 – 3 bulan dipembibitan.
- Permukaan tajuk rata, bentuk bibit memendek karena pelepah yang muda tidak mau memanjang dan lebih pendek dari pada pelepah yang tua. Terjadi setelah 2 – 3 bulan dipembibitan.
- Bibit tumbuh terkulai, terjadi setelah 6 bulan dipembibitan.
- Anak daun tidak membelah, sedangkan anak daun pada bibit yang lain yang umurnya sama telah membelah. Terjadi setelah 3 – 4 bulan dipembibitan.
2. Kelainan pada bentuk anak daun (leaflet)
- Sudut anak daun dengan tulang daun sangat tajam (cenderung steril). Terjadi setelah 3 bulan lebih dipembibitan.
- Helaian anak daun sempit seperti jarum, kadang – kadang menggulung dan membentuk sudut tajam dengan tulang daun.
- Anak daun pendek – pendek, terjadi setelah 5 bulan dipembibitan.
- Anak daun tersusun sangat rapat atau sebaliknya tersusun sangat jarang. Terjadi 5 bulan dipembibitan.
3. Bibit Abnormal
Bibit yang pertumbuhannya kurang subur akibat serangan hama, penyakit, kekurangan pupuk, dan kesalahan sewaktu perawatan (terkena percikan herbisida, terbakar karena pemupukan berlebihan) dapat dipelihara terus. Bila sampai saat penanaman tidak membaik, maka termasuk di culling.
Berikut beberapa kriteria culling di main nursery :
1. Bibit dengan permukaan tajuk rata (flat top)
2. Bibit dengan strip kuning (chimera)
3. Bibit steril (erect)
4. Bibit “Juvenil”
5. Bibit dengan sudut anak daun sempit
6. Bibit dengan jarak antar anak daun pendek (short internod)
7. Bibit dengan jarak antar anak daun panjang (long internod)
8. Bibit kerdil (stunted)
9. Bibit terserang crown disease
Pentingnya dilakukan culling/seleksi bibit sebelum ditanam kelapangan agar tidak ada penyesalan mengenai hasil yang didapatkan kelak, karena ini merupakan investasi kita 25 tahun kedepan.
Jumat, 15 Januari 2021
Pembibitan Main Nursery dan Teknisnya
BERTANI - Main nursery adalah tahap selanjutnya pembibitan kelapa sawit dari bibit umur 3 bulan sampai 12 bulan setelah tanam. Bertujuan untuk mempersiapkan bibit kelapa sawit siap ditanam dilapangan dalam jumlah cukup dan kualitas baik. Pemindahan bibit (transplanting) ke main nursery dilakukan setelah proses seleksi bibit (culling).
![]() |
| Gambar : Bibit umur 3 bulan yang telah pindah tanamkan ke Main Nursery |
Penggunaan wadah pembibitan di main nursery disarankan menggunakan polybag hitam ukuran 55 cm x 38 cm x 0.15 mm untuk ketebalannya. Ukuran polibag dapat diperkecil untuk memudahkan dalam proses pindah tanam ke lapangan. Penggunaan polybag hitam dimaksudkan agar akar tanaman dapat terlindungi dari sinar matahari dan tanah didalam polibag tidak berlumut.
Untuk penggunaan tanah sebagai media tanam, sebaiknya memenuhi syarat berikut :
1. Berasal dari lapisan atas / topsoil
2. Tidak kedap air
3. Stabil mengikat akar
4. Tidak mudah hancur
5. Struktur lempung dan berliat
6. Bebas kontaminasi bahan kimia
7. Jangan mengambil tanah disekitar perakaran sawit yang terkena Ganoderma
8. Jangan menggunakan tanah berpasir karena tidak menyerap dan menyimpan air.
9. Jangan menggunakan tanah gambut yang belum terdekomposisi dengan sempurna
Sebaiknya tanah yang akan dimasukkan kedalam polibag bebas dari akar, serta sampah lainnya, juga tidak terdapat bongkahan/gumpalan tanah. Alangkah baiknya sebelum tanah dimasukkan, digemburkan dengan cangkul. Isi tanah hingga penuh. Lebih baik tanah ditambahkan pupuk Rp 0.8 Kg per meter kubik tanah secara merata.
Penyusunan polibag main nursery mengikuti pola segitiga sama sisi dengan jarak 90 cm x 90 cm x 90 cm, atau dengan jarak 90 cm x 78 cm x 78 cm. Namun apabila lahan terlalu sempit untuk menampung bibit yang banyak, dapat dibuat dengan jarak tanam 70 cm x 70 cm x 70 cm. Pertimbangan penyusunan polybag harus juga memperhatikan penyinaran matahari yang cukup untuk bibit agar bibit tidak etiolasi, sehingga juga menyebabkan pertumbuhan yang tidak seragam.
![]() |
| Gambar : Skema penyusunan polibag di Main Nursery |
Setelah dilakukan penyusunan, penjenuhan polibag harus juga dilakukan agar tanah dalam kondisi lapang air, dan agar tanah padat sehingga tidak menyebabkan polibag doyong. Penambahan tanah setelah penjenuhan penting juga dilakukan karena tanah setelah dijenuhkan akan menyusut.
Pastikan semua polybag sudah disiram jenuh sebelum transplanting. Alat pelubang dibuat seukuran babybag, bisa dibuat dengan menggunakan pipa PVC atau pipa galvanis dengan tiang setinggi 0.5 meter.
Saat penanaman, plastik babybag harus dilepaskan dan harus diperhatikan agar tanah tidak rusak atau bola tanahnya hancur saat penanaman transplanting. Tanam polibag kedalam lubang tanam, padatkan sisi kanan dan kiri, ratakan permukaan bibit sampai leher akar dan bahagian bonggol tidak tertimbun.
Pemberian mulsa setelah penanaman penting juga dilakukan untuk menghambat kerusakan tanah akibat penyiraman, dan menghindari tercucinya pupuk. Pemulsaan dapat menggunakan serasah, jerami ataupun cangkang sawit.
Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari. Bibit di main nursery membutuhkan air sebanyak 2 liter/hari. Kondisi hujan dapat dipertimbangkan untuk penyiraman.
Penyemprotan untuk hama dan penyakit dilakukan bila ada gejala yang menyerang saja. Penyemprotan hama dan penyakit lebih baik dibarengi dengan penambahan Bayfolan sebagai pupuk daun. Untuk pestisida yang digunakan yakni berbahan aktif Deltametrin untuk hama dan Mankozeb untuk penyakit. Aplikasi insektisida bisa dibarengi dengan Bayfolan begitupun untuk fungisida. Adapun dosisnya yakni masing-masing 14 cc/kap SA15 Liter bisa untuk ±6000 bibit di pre nursery. Penyemprotan untuk pencegahan dapat dilakukan 2 minggu sekali.
Untuk pemupukan, penulis sajikan didata berikut :
|
Bulan
Setelah Tanam |
NPK
15.15.6.4 (gr) |
NPK
12.12.17.2+TE (gr) |
Kieserite (gr) |
Aplikasi
per Bulan |
|
4 |
1 |
|
|
4 |
|
5 |
|
10 |
10 |
1 |
|
6 |
|
15 |
15 |
1 |
|
7 |
|
15 |
15 |
1 |
|
8 |
|
30 |
30 |
1 |
|
9 |
|
30 |
30 |
1 |
|
10 |
|
35 |
30 |
1 |
|
11 |
|
35 |
30 |
1 |
|
12 |
|
35 |
30 |
1 |
Culling/seleksi bibit dilakukan pada bibit umur 6 bulan, 9 bulan dan terakhir di 12 bulan sebelum pindah ke lapangan.
Langganan:
Postingan (Atom)




