Jumat, 01 Desember 2023

Parasitisme Ulat Penggulung Daun Pisang (Erionota thrax L.) (Lepidoptera : Hesperidae)

Tags

BERTANI - Pisang merupakan tanaman yang tahan naungan dan udah dibudidayakan. Meski mudah dibudidayakan, untuk membudidayakan pisang di lahan hutan dibutuhkan persyaratan tertentu. Pisang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jenis pisang yang banyak ditanam di Indonesia antara lain pisang susu, pisang raja, pisang ambon, pisang kepok, pisang mas, dll. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang dominan dalam konsumsi buah-buahan di Indonesia, karena sekitar 45 % dan total konsumsi buah-buahan adalah pisang (Wijayanto, 2007).



Inventarisasi plasma nutfah pisang di Indonesia dimulai pada abad XVIII. Dalam buku yang berjudul Herbarium Amboninese karangan Rumphius yang diterbitkan tahun 1750, telah dikenal beberapa jenis pisang hutan dan pisang budidaya yang terdapat di Kepulauan Maluku Pengembangan budidaya tanaman pisang pada mulanya terpusat di daerah Banyuwangi, Palembang, dan beberapa daerah di Jawa Barat dan sekarang sudah tersebar ke seluruh Indonesia (Nushka, 2012).

Di Indonesia, pisang menduduki tempat pertama di antara jenis buah-buahan lainnya, baik dari segi sebaran, luas pertanamannya maupun dari segi produksinya. Total produksi pisang Indonesia tahun 2006 sekitar 5.037.472 ton dan Lampung menyumbang 535.732 ton, atau 10,6% dari produksi pisang nasional (Molina, et.al, 2007).

Salah satu hama yang banyak menyerang pertanaman pisang adalah Erionota thrax L. (Lepidoptera: Hesperidae). Hama ini menyerang bagian daun pisang dan dikenal sebagai ulat penggulung daun pisang. Apabila dibiarkan, tanaman akan menjadi gundul dan hanya tampak tulang daunnya. Larva berwarna hijau muda dan ditutupi lapisan tepung berwarna putih, dan panjangnya sekitar 7 cm. Telur berwarna kuning dan diletakkan oleh serangga betina dewasa di bagian tepi permukaan bawah daun (Novianti, 2008).

Namun demikian secara umum produktivitas pisang yang dikembangkan masyarakat masih sangat rendah, seperti di Lampung produktivitas pisang hanya 10-15 ton/ha, padahal potensi produktivitasnya bisa mencapai 35-40 ton/ha. Kesenjangan produktivitas tersebut terutama disebabkan teknik budidaya tidak tepat dan tingginya gangguan hama dan penyakit terutama oleh serangan dua penyakit paling berbahaya dan mematikan, yaitu penyakit layu bakteri atau penyakit darah dan penyakit layu Fusarium (Molina, et.al, 2007).

Daun pisang tidak terlepas dari serangan hama serangga. Serangga yang menyerang daun pisang adalah Erionota thrax L. dimana serangga ini menggulung daun pisang untuk dijadikan tempat tinggalnya. Salah satu upaya untuk memberantas hama ini selain menggunakan insektisida adalah dengan mengetahui parasitoid dari serangga tersebut (Novianti, 2008).

Salah satu pengendalian dari Erionota thrax L. yaitu dengan menggunakan pengendalian hayati. Menurut Eleinberg et al (2001) bahwa pengendalian hayati merupakan penggunaan organisme hidup untuk menekan populasi serangga hama–pathogen, agar tidak berkembang atau bahkan tidak menimbulkan gejala kerusakan pada tanaman sehingga tanaman bisa tumbuh seperti apa adanya (Pratomo, 2005).

Parasitoid adalah serangga yang bersifat sebagai parasit pada serangga atau binatang Arthropoda yang lain. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanya (larva) sedangkan fase dewasanya berada hidup bebas dan tidak terikat dengan inangnya. Umumnya parasitoid akhirnya dapat membunuh inangnya meskipun ada inang yang mampu melengkapi siklus hidupnya sebelum mati. Parasitoid mampu menyerang pada setiap instar serangga, meskipun instar dewasa jarang terparasit (Soviani, 2012).

Biologi Hama

Menurut Fauzi (2013) Erionota thrax L. Diklasifikasikan sebagai berikut : 
Kingdom : Animalia ; 
Filum : Arthropoda ; 
Kelas : Insecta ; 
Ordo : Lepidoptera ; 
Family : Hesperiidae ; 
Genus : Erionota ; 
Spesies : Erionota thrax L.

Erionota thrax L. termasuk ke dalam famili Hesperiidae, Ordo Lepidoptera. Telur berwarna kuning dan menetas setelah mencapai umur 5-8 hari setelah diletakkan. Imago meletakkan telur secara berkelompok kira-kira 25 butir pada permukaan bawah daun yang utuh pada malam hari. Perkawinan kupu – kupu ini dilakukan pada sore dan pagi hari. Kupu-kupu ini bertelur pada waktu malam hari. Telurnya di lekatakan bergerombol pada daun sebanyak 25 butir pada daun pisang yang masih utuh (Praputra et al, 2011).

Telur berwarna kuning cerah yang kemudian berubah menjadi kuning. Telur diletakkan secara tunggal atau berkelompok di bawah permukaan daun. Telur menetas dalam 5 sampai 8 hari (Novianti, 2008).

Larva yang masih muda warnanya sedikit kehijauan dan tubuhnya tidak dilapisi lilin. Larva yang ukurannya lebih besar berwarna putih kekuningan dan tubuhnya dilapisi lilin. Larva muda yang baru menetas memotong daun pisang secara miring mulai dari bagian tepi daun lalu menggulung potongan tersebut. Stadium larva berlangsung selama 28 hari. Larva makan dari bagian dalam gulungan tersebut, kemudian membentuk gulungan yang lebih besar sesuai dengan perkembangan larva sampai instar akhir. Mortalitas larva cukup tinggi pada larva muda karena pada permukaan tubuhnya belum ditutupi lilin dan gulungan daunnya masih terbuka (Fauzi, 2013).

Stadium prapupa lamanya adalah tiga hari, sedangkan stadium pupa 7 hari. Memasuki stadium pupa, warna tubuh menjadi kuning terang. Sesuai perkembangan, lambat laun tubuh pupa akan berubah warna menjadi agak gelap dan akhirnya menjadi agak gelap dan akhirnya menjadi coklat agak gelap. Pupa berada di dalam gulungan daun, dan dilapisi lilin. Panjang pupa ± 6 cm dan mempunyai probosis. Stadium pupa berlangsung selama 8-12 hari (Cardona et al., 2007).

Imago Erionota thrax L. adalah kupu-kupu berwarna coklat dengan bintik kuning pada kedua sayapnya. Panjang rentangan sayapnya kira-kira 7.5 cm. Imago menghisap madu atau nektar bunga pisang. Imago aktif pada sore hari dan pagi hari. Siklus hidup E. thrax di Bogor 5 – 6 minggu (Novianti, 2008).

Gejala Serangan

Daun yang diserang ulat biasanya digulung sehingga menyerupai tabung, dan apabila dibuka akan ditemukan larva di dalamnya. Larva memotong bagian tepi daun kemudian digulung mengarah ke dalam. Larva yang masih muda memotong tepi daun secara miring, lalu digulung hingga membentuk tabung kecil. Apabila daun dalam gulungan tersebut sudah habis, maka larva akan pindah ke tempat lain dan membuat gulungan yang lebih besar. Di dalam gulungan tersebut larva akan memakan daun dan biasanya gulungan tersebut menjadi layu (Ahmad, et.al ., 2008).

Larva yang menetas dari telur-telur yang diletakkan pada daun muda, memakan daun pisang dari dalam gulungan daun-daun tersebut Ulat masih muda memotong daun mulai dari tepi secara miring, lalu digulung sehingga membentuk tabung kecil. Pada tingkat serangan tinggi, daun habis dan tinggal pelepah yang penuh dengan gulungan. Akibatnya pada serangan berat tinggal tulang-tulang daun yang tegak yang akhirnya menegering (Fauzi, 2013).

Larva ditutupi oleh semacam lilin berwarna putih. Kepompongnya berwarna coklat. Apabila serangan berat, daun akan habis dan tinggal pelepah daun yang penuh dengan gulungan daun sehingga dapat menurunkan produksi pisang (Molina, et.al., 2007).

Pengendalian Hayati

Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (agen pengendali biologi), seperti predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati adalah suatu teknik pengelolaan hama dengan sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan musuh alami untuk kepentingan pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium. Sedangkan Pengendalian alami merupakan Proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia, tidak ada proses perbanyakan musuh alami (Sunarno, 2010).

Pengendalian hayati memiliki keuntungan yaitu : 
(1). Aman artinya tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia dan ternak, (2). tidak menyebabkan resistensi hama, 
(3). Musuh alami bekerja secara selektif terhadap inangnya atau mangsanya, dan 
(4). Bersifat permanen untuk jangka waktu panjang lebih murah, apabila keadaan lingkungan telah setabil atau telah terjadi keseimbangan antara hama dan musuh alaminya (Jumar, 2000).

Selain keuntungan pengendalian hayati juga terdapat kelemahan atau kekurangan seperti : 
(1). Hasilnya sulit diramalkan dalam waktu yang singkat, 
(2). Diperlukan biaya yang cukup besar pada tahap awal baik untuk penelitian maupun untuk pengadaan sarana dan prasarana, 
(3). Dalam hal pembiakan di laboratorium

kadang-kadang menghadapi kendala karena musuh alami menghendaki kondisi lingkungan yang khusus dan (4). Teknik aplikasi dilapangan belum banyak dikuasai (Sunarno, 2010).

Parasitoid

Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang antropoda lainnya. Parasitoid bersifat parasit pada fase pradewasa, sedangkan dewasanya hidup bebas dan tidak terikat pada inangnya. Parasitoid hidup menumpang di luar atau didalam tubuh inangnya dengan cara menghisap cairan tubuh inangnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya (Jumar, 2000).

Faktor - faktor yang mendukung efektifitas pengendalian hama oleh parasitoid adalah : (1). Daya kelangsungan hidup (Survival) baik, (2). Hanya satu atau sedikit individu inang diperlukan untuk melengkapi daur hidupnya, (3). Populasi parasitoid dapat tetap bertahan meskipun pada aras populasi inang rendah, (4). Sebagian parasitoid monofag, atau oligofag sehingga memiliki kisaran inang sempit. Sifat ini menyebabkan populasi parasitoid memiliki respon numerik yang baik terhadap perubahan populasi inangnya (Sunarno, 2010).

Parasitoid menyedot energi dan memakan selagi inangnya masih hidup dan membunuh atau melumpuhkan inangnya untuk kepentingan keturunanya. Kebanyakan parasitoid bersifat monofag (memiliki inang spesifik), tetapi ada juga yang oligofag (inang tertentu). Selain itu parasitoid memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari iangnya (Soviani, 2012).

Adapun mekanisme parasitoid yaitu proses penemuan inang oleh parasitoid terjadi sangat kompleks, dimana prose situ perbedaannya tergantung jarak inang (long and short range). Hal itu merupakan proses yang dilakukan oleh parasitoid betina untuk meletakkan telurnya pada inang. Parasitoid betina dapat meletakkan telurnya pada permukaan kulit inang atau dengan tusukan ovipositor telur langsung dimasukkan kedalam tubuh inag. Larva yang keluar dari telur menghisap cairan dari inagnya dan menyelesaikan perkembangannya dapat dari luar tubuh inang (ektoparasitoid) atau di dalam tubuh inang (endoparasitoid) (Jumar, 2000).

Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae) merupakan parasitoid bersifat soliter dan parthenogenesis sehingga diharapkan mempunyai daya biak yang cukup besar. Pemanfaatan Xanthocampoplex sp. sebagai agens hayati telah banyak diterapkan di PTPN II Risbang Tebu Sei Semayang untuk mengendalikan hama penggerek batang tebu raksasa Phragmatocea castaneae. Parasitoid Xanthopimpla gampsura, termasuk ke dalam famili Ichneumonidae. Karena memiliki ciri tidak mempunyai sel kostapada sayap-sayap depan, venasiRs + M tidak ada, terdapat venasi 2m-cu. Antena berbentuk filiform (seperti benang) dengan segmen berjumlah 18 atau lebih. (Soviani, 2012).

Daftar Pustaka

Ahmad I., Maramis R., Sastrodihardjo S., and Permana A.D., 2008. Abundant parasitoids of Erionota thrax (Lepidoptera; Hesperidae) in four banana plantations around Bandung areas. Sam Ratulangi University (UNSRAT), Manado, Indonesia.

Fauzi, R. 2013. Kemampuan Memangsa Rhynocoris fuscipes F. (Hemiptera:Reduviidae) Terhadap Larva Erionota thrax L.(Lepidoptera:Hesperiidae) dan Spodoptera litura F. (Lepidoptera : Noctuidae) di Laboratorium. Unversitas Sumatera Utara, Medan.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Molina, A.B., Eusebio, J.E., Roa, V.N., V.D.Berg and Maghuyob, M.A.G., 2007. Current situation in banana R&Din Papua New Guinea. Jakarta.

Novianti F., 2008. Hama Penggulung Daun Pisang Erionota Thrax Linnaeus (Lepidoptera: Hesperidae) Dan Musuh Alaminya Di Tempat-Tempat Dengan Ketinggian Berbeda. IPB, Bogor.

Nushka, N.2012. BAB II Kajian Pusataka. Diakses dari eprints.uny.ac.id/8171/3/bab%202%20-%2007308141022.pada tanggal 26 September 2016.

Praputra, P. W., W. Harianja, R. Irmaulana, S. N. Doy, and J. Haro. 2011. Ekologi Ulat Penggulung Daun Erionota thrax L. UKI. Jakarta.

Pratomo, A. 2005. Prinsip Pengendalian Hayati. Universitas Pendidikan Indonesia, Jakarta.

Soviani, E. 2012. Identifikasi Parasitoid pada Erionota thrax L. yang Terdapat pada Daun Pisang. Universitas Pendidikan Indonesia, Jakarta.

Sunarno, 2010. Pengendalian Hayati ( Biologi Control ) Sebagai Salah Satu Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Halmahera utara.

Wijayanto, N. 2007. Budidaya Pisang.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon