BERTANI - Pada hari Sabtu, 28 November 2015 lalu penulis mengikuti seminar nasional sekaligus workshop yang diadakan di Gelanggang Mahasiswa Universitas Sumatera Utara.
Tema : Eksplorasi Durian Unggul Lokal Nusantara "Si Buah Emas Berduri"
Moderator : Dr.Lisnawita, S.P.,M.Si (Dosen Fakultas Pertanian USU)
Key Note Speaker : Dr.Ir.Catur Hermanto, M.P
Narasumber : Dr.Lutfi Bansir, S.P.,M.P (Penghulu Buah)
Zainal Abidin Chaniago (Pengusaha Ucok Durian)
![]() |
| Gambar : Bapak Dr. Lutfi Bansir, S.P., M.P |
Dewasa ini Indonesia sebagai negara yang penduduknya banyak penikmat durian masih melakukan impor durian secara besar-besaran dari Malaysia dan Thailand. Pasaran Indonesia pun kini sudah dipenuhi oleh durian impor, contohnya Mon-Thong (Thailand) ataupun Musang King (Malaysia) yang kini telah menjamur baik dipedagang pinggir jalan bahkan super market.
Demi memenuhi kebutuhan konsumen durian, para pedagang kini lebih mementingkan bisnis daripada nasionalis. Kini jarang kita temui durian lokal dipasaran yang benar-benar dari varietas aslinya. Bilapun ada durian lokal yang dilabeli pedagang dengan nama varietas nya tetapi belum tentu asli dari varietas tersebut .
Durian di Malaysia ataupun Thailand dikelola dengan baik dari Perawatannya hingga Pemasarannya. Hampir rata-rata petani disana telah mengetahui umur berbuah duriannya. Sangat miris memang, ketika Thailand sudah memulai pengembangan durian dari tahun 1884 (68 jenis), Malaysia 1934-2015 (200 varietas), sedangkan Indonesia baru memulainya tahun 1984 dan sampai saat ini (2015) baru terdapat 95 varietas.
Padahal Indonesia memiliki luas negara yakni sekitar 2jt km2 tetapi hanya memiliki kawasan penanaman durian 60ribu Hektar, dengan tanaman varietas 15% dan tanaman lokal 85%. Sedangkan Thailand dengan luas negara sekitar 520.000 km2 memiliki kawasan penanaman durian 200,000 Hektar dengan tanaman varietas 90% dan lokal 10%, begitu pula Malaysia dengan luas negara sekitar 330,000 km2 memiliki kawasan penanaman durian 120,000 Hektar dengan tanaman varietas 30% dan lokal 70%.
Setiap buah durian dari masing-masing negara memiliki kekhasannya masing-masing. Kini telah dikembangkan durian dengan daging buah merah di Indonesia. Diharapkan dengan pengembangan durian merah ini Indonesia mempunyai "identitas" untuk buah durian.
Permasalahan di masyarakat kita tentang budidaya durian yakni mereka masih menggunakan biji sebagai bahan perbanyakan. Nah, dengan perbanyakan ini akan didapatilah pohon yang berbuah cukup lama yakni untuk masa berbuah pertama 10-15 tahun. Selain itu akan didapati pula pohon durian yang tinggi, sehingga susah dalam perawatan.
"Pemerintah pun sebenarnya telah mengeluarkan beberapa varietas unggulan, namun sayang nya hal ini tidak dibarengi dengan persetujuan oleh tim yang benar-benar mengerti akan durian" kata Pak Lutfi.
Sampai akhirnya durian unggul rekomendasi pemerintah kini tidak lagi terdengar rimbanya. Ibaratnya ada miss comunication antara pemerintah dengan para pemulia tanaman durian yang benar-benar mengerti durian.
"Sekarang tinggal kita sebagai penikmat ataupun pedagang durian yang harus memilih, mementingkan komersil (bisnis), ataupun nasionalis (durian lokal)" tambah Pak Lufti.
Pak Zainal Abidin mengatakan bahwasannya durian Indonesia tak kalah dengan durian impor. Contonya saja Mon-Thong yang hanya memiliki rasa manis saja, durian kita memiliki banyak rasa yang bisa dipilih menurut varietas nya, ada yang manis, legit, lemak dan sebagainya.
Permasalahan durian lokal kita dipasar yakni mudah pecah bila sudah 3 hari. Sedangkan durian impor tidak. Hal ini dikarenakan buah durian lokal kita dipanen pada waktunya (buah sudah jatuh ketanah), sedangkan durian impor contohnya di Thailand petani nya sudah ada catatan kapan buahnya harus dipanen kemudian diperam oleh mereka.
Sekarang ini mengubah pola pikir masyarakat untuk menggiatkan durian lokal harus dirubah. Karena potensi durian lokal kita sangat besar untuk dikembangkan untuk bisa mengisi pundi-pundi rupiah kita.
Para petani durian pun dihimbau agar lebih mengerti budidaya durian yang benar. Seperti pemupukan, penyilangan, dan lain sebagainya.
Pak Lutfi mengatakan pemberian pupuk yang tepat yakni dengan memberikan pupuk potasium ataupun dengan sekam yang telah dibakar agar buah kuning dan tekstur lembut. Jangan banyak memberikan urea karna buah nanti akan menjadi keras.
Berikut dibawah ini adalah tata cara pengembangan durian unggul dengan cara grafting yang diperagakan langsung oleh Pak Lutfi. Maaf apabila gambar yang diambil kurang jelas.
Referensi : Slide Seminar Nasional Eksplorasi Durian Unggul Lokal Nusantara "Si Buah Emas Berduri" Bapak Dr.Lutfi Bansir, S.P.,M.P

EmoticonEmoticon