BERTANI - Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa nonmigas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 2005 luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 5.597.158 ha dan mengalami peningkatan pada tahun 2010 menjadi seluas 8.430.206 ha.
![]() |
| Gambar : Pembibitan kelapa sawit |
Berkembangnya subsektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi inventasi untuk pembangunan perkebunan rakyat. Di banding dengan komoditi lainnya pada sub-sektor perkebunan, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang pertumbuhannya paling pesat pada dua dekade terakhir.
Pada era 1980-an sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, industri kelapa sawit berkembang sangat pesat. Pada periode tersebut, areal meningkat dengan laju sekitar 11% per tahun. Sejalan dengan perluasan areal, produksi juga meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Komsumsi domestik dan ekspor juga meningkat pesat dengan laju masing – masing 10% dan 13% per tahun. Laju yang demikian pesat menandai era dimana kelapa sawit merupakan salah satu primadona pada sub-sektor perkebunan.
Apalagi kini pengembangan produk turunan dari minyak sawit gencar dilakukan. Contohnya saja yang terbaru dengan pengembangan B100. Biodiesel B100 adalah bahan bakar dari minyak sawit murni. Sama sekali tidak dicampur dengan minyak solar. Dengan demikian prospek kelapa sawit insyaallah bagus untuk kedepannya. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari prospek sawit tersebut, dimulai dengan cara budidaya sawit sendiri. Hal awal sebelum budidaya kelapa sawit yakni “pembibitan” yang benar.
Pembibitan merupakan faktor penting dalam budidaya kelapa sawit. Dengan cara pembibitan yang benar didapatkan bahan tanam yang berkualitas sehingga hasil yang diharapkan dilapangan dapat memenuhi ekspektasi seorang planter. Pengetahuan tentang pembibitan adalah mutlak bagi seorang planter. Dengan sistem dan cara pembibitan, kita dapat mengatur cost sedemikian rupa menjadi lebih efektif.
Dalam pembibitan kelapa sawit, terdapat dua metode pembibitan yakni satu tahap (single stage) atau dua tahap (double stage). Untuk perusahaan atau seorang pengusaha bibitan kelapa sawit, metode umumnya digunakan yakni double stage dimana terdapat pre nursery dan main nursery. Sementara petani kelapa sawit lebih banyak memilih metode single stage dimana pre dan main nursery digabung, dan benih langsung ditanam dipolibag seukuran main nursery (largebag) dimetode double stage. Tetapi, masing – masing dari kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya. Berikut penulis sampaikan opini tentang kedua metode tersebut.
Single Stage :
1. Benih langsung ditanam ditempat terbuka, sehingga rawan mati
2. Persiapan lahan main nursery harus segera diselesaikan untuk menanam benih
3. Lebih hemat biaya tanah, polibag, naungan, dan tenaga kerja karena tidak perlu ada pre nursery
4. Bibit yang dihasilkan kurang seragam
5. Stres tanaman akibat transplanting tidak ada
6. Biaya transplanting tidak ada
Double Stage :
1. Benih ditanam di pre nursery yang memiliki naungan, sehingga lebih adaftif terhadap lingkungan
2. Persiapan main nursery dapat berprogres, sembari menunggu bibit dari pre nursery
3. Biaya lebih tinggi untuk tanah pre nursery, biaya babybag, biaya pembuatan pre nursery dan tenaga kerja di pre nursery
4. Bibit yang dihasilkan lebih seragam, karena ada culling di pre nursery dan main nursery
5. Terdapat stres tanaman akibat transplanting
6. Biaya tenaga kerja transplanting ada

EmoticonEmoticon