Senin, 23 November 2015

Budidaya Tanaman Cabai

Tags

BERTANI - Tanaman cabai adalah tumbuhan perdu dengan rasa buah pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Di Indonesia, tanaman cabai mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. Oleh karena itu tanaman ini umumnya dapat dibudidayakan hampir diseluruh Indonesia, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi sampai ketinggian 1400 mdpl. 

Gambar : Cabai rawit

Secara umum Cabai diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom        : Plantae
Divisi             : Magnoliophyta
Kelas             : Magnoliopsida
Sub Kelas     : Asteridae
Famili          : Solanaceae
Genus          : Capsicum
Spesies        : Capsicum annum L.

Syarat Tumbuh :
- Ketinggian tempat antara 0 - 1.200 m dpl
- Tanah bertekstur remah atau gembur dan kaya bahan organik
- pH TANAH 6,0 - 7,0

Varietas yang dianjurkan :
- Cabai besar : Jatilaba, Prembun, LC, Serdang, Tit Super, dan jenis hibrida Hot beauty
- Cabai rawit : Cengek, Domba, dan Ceplik

Pembenihan dan Pembibitan :
- Pembenihan
1. Benih berasal dari buah yang tua dengan bentuk normal, dan bebas hama penyakit

2. Buah cabai dibelah memanjang, dikeluarkan bijinya, jemur hingga kering

3. Jika buah ingin disimpan lama, sebaiknya biarkan buah cabai tetap utuh dan jemur hingga kering

Pembibitan/Penyemaian :
1. Untuk mempercepat pertumbuhan, sebelum disemai benih direndam dalam larutan Kalium Hipoklorit 10% sekitar 10 menit, atau direndam dalam air hangat (Suhu 50 derjat C) selama semalam
2. Kebutuhan benih cabai per hektar antara 200 - 500 g
3. Buat bedengan menghadap ketimur, lalu beri atap dari daun kelapa, daun pisang, atau alang - alang
4. Olah tanah bedengan hingga gembur
5. Taburkan pupuk kandang dan campurkan tanah secara merata
6. Tebarkan pupuk kandang dan campurka tanah secara merata
7. Tebarkan biji cabai dan siram dengan sprayer
8. Pada umur 30 - 40 hari setelah semai, bibit siap ditanam di lahan

Pengolahan lahan :
1. Bersihkan lahan dari gulma, lalu cangkul atau bajak agar gembur
2. Jika pH tanah <5,5 maka tambahkan kapur dengan dosis 1 - 1,5 ton/Ha
3. Dibuat bedengan ukuran lebar 120 cm, panjang sesuai keadaan, tinggi bedengan 25 cm atau guludan. Jarak antar bedengan/guludan 60 cm - 70 cm

Penanaman :
- Waktu :
1.Dilahan sawah pada akhir musim hujan
2.Dilahan tegalan pada musim hujan
- Sistem penanaman : sistem baris tunggal pada guludan atau sistem ganda pada bedengan
- Jarak tanam ganda pada bedengan ( 60cm - 70cm ) x ( 30cm - 50cm ), jarak tanam tunggal untuk sistem guludan 30cm - 40 cm
- Masukkan bibit ke lubang tanam, lalu tutup dengan tanah sekitar tanaman dan padatkan dengan tangan

Pemeliharaan :
- Penyulaman dilakukan sesegera mungkin agar pertumbuhan tanaman susulan tidak berbeda jauh
- Penyiangan dilakukan dengan menggunakan kored atau herbisida selektif
- Pengairan dilakukan awal penanaman terutama pada saat hujan tidak memenuhi kebutuhan
- Pemupukan :
a. Pupuk kandang 20 ton/Ha
b.Dosis pupuk : Nitrogen : 80 - 100 Kg/Ha, Phospat 60 - 70 Kg/Ha, dan Kalium 45 - 60 Kg/Ha
c. Pupuk Nitrogen diberikan tiga kali. 1/3 bagian diawal tanam, 1/3 bagian diberikan pada usia 30 HST, 1/3 bagian diberikan pada 45 HST. Phospat dan Kalium diberikan sekaligus pada saat tanam

Pengendalian OPT :
- Hama : Kutu daun
- Penyakit : disebabkan oleh cendawan dan bakteri
- Pengendalian. Menerapkan prinsip PHT (Rotasi tanaman, Pengamatan tanaman, Penggunaan Pestisida, Eradikasi, Sanitasi kebun dan Lingkungan)

Panen dan Pasca panen :
- Panen didataran rendah dilakukan pada umur 70 - 75 hari, sedang didataran tinggi dimulai pada umur 120 - 150 hari
- Panen berikutnya setiap 3 - 4 hari sampai umur 6 - 7 bulan
- Panen dilakukan dengan cara memetik buah yang sudah tua
- Lakukan sortasi buah, kemudian diangin - anginkan ditempat terbuka


EmoticonEmoticon